Jumat, 26 Oktober 2012

Laporan zoologi vertebrata katak sawah



LAPORAN PRAKTIKUM
ZOOLOGI VERTEBRATA
 “Classis Amphibia”
Memahami struktur dasar tubuh katak sawah (Rana cancrivora)
Hari/tanggal: kamis, 3 November 2011




Disusun oleh:
NAMA             : AMFRIDA
 NPM               : 09321019
 PRODI           : Pend. Biologi
KELAS           : A
KELOMPOK: 2 (B)


LABORATORIUM PENDIDIKAN MIPA
UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH  METRO
2011





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Hewan adalah organisme yang mampu bergerak bebas, tetapi pada hewan tingkat rendah hanya mampu menggerakkan tubuh dengan cara mengerutkan serabut-serabutdan multiselulernya. Untuk mempelajari dan memahami hewan yang bersel banyak, hal itu pada hewan yang bertulng belakang (vertebrata). Katak merupakan salah satu anggota dari classic amphibian. Amphibia merupakan kelompok vertebrata pionir yang hidup didarat dengan beberapa bentuk penyesuaian. Hewan ini relatif mudah didapatkan dan sangat baik untuk dijadikan objek studi, susunan tubuhnya mudah dipahami, demikian fisiologinya dan cara hidupnya.
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Rana
Spesies:
Rana cancrivora

Katak sawah (Rana cancrivora) tidak mempunyai ekor dan leher, antara kepala dan badan tidak mempunyai batas yang nyata, kaki depannya pendek, sedangkan kaki belakangnya panjang yang berguna untuk melompat, kulitnya halus dan licin,banyak mengandung kelenjar dan belum mempunyai pengatur suhu tubuh, karna suhu tubuh pada katak dipengaruhi oleh lingkungannya. pada tingkat larva/kecebong hidup dalam air dan bernapas dengan menggunakan insang, setelah dewasa hidup didarat dan bernapas dengan paru-paru dan kulitnya, katak banyak hidup disawah atau dikolam.
Kodok/katak yang sering dijumpai di daerah berawa, khususnya dekat lingkungan buatan manusia: kebun yang becek, sawah, saluran air; namun agak jarang di aliran sungai. Juga merupakan satu-satunya jenis amfibia modern yang mampu hidup di daerah yang berair payau dan hutan bakau.
Kebanyakan aktif di waktu gelap dan pagi hari, di siang hari kodok ini berlindung di balik rerumputan atau celah di pematang atau tebing saluran air; dan tiba-tiba melompat ke air apabila hendak terpijak. Pada malam hari, terutama sehabis hujan turun, kodok jantan berbunyi-bunyi memanggil betinanya dari tepi air: …dododododok.. dododok, dengan ritme cepat. Namun alih-alih berbunyi bersama, kodok-kodok jantan ini saling menyendiri. Serupa halnya dengan kodok batu (Limnonectes macrodon), kodok ini sering dicari orang untuk diambil pahanya yang gemuk, untuk dijadikan masakan swike (swie kee, ayam air) yang lezat di restoran tionghoa.
Kodok sawah menyebar luas mulai dari Indochina, Hainan, Semenanjung Malaya sampai ke Filipina, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Kodok ini juga terintroduksi ke Papua.
B.     Tujuan
  1. Agar dapat mengidentifikasi bentuk luar tubuh Rana cacrivora
  2. Agar dapat mengidentifikasi topografi alat-alat visceral Rana cacrivora



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Djuanda (1984: 18) menyatakan bahwa katak badannya lebar, mempunyai dua pasang anggota gerak. Anggota depan lebih pendek dan kecil dibandingkan dengan yang belajkang, jari-jarimya hanya empat buah,sedangkan jari-jari anggota belakang ada lima buah. Anggota belakang lebih panjang dan memiliki otot paha yang besar dan kuat karena digunakan untuk meloncat. Untuk memudahkan berenang, diantara jari-jari bagian belakang terdapat selaput renang dan ujung bawah katak mempumyai lubang kloaka sebagai muara saluran pencernaan, saluran lemih dan saluran sperma.
Menurut Radiopoetra (1977: 67) menyatakan bahwa Sistem pencernaan pada katak terdiri atas rongga mulut (cavum oris), faring, oesophagus, gastrum, duodenum, intestine, colon, dan cloaca. Cavum oris ialah lebar. Bangunan-bangunan yang berada di dalam cavum oris ialah dentes dan lingua. Di dasar cavum oris sebelah anterior berpangkal lingua dengan ujung yang bebas di sebelah posterior. Ujungnya berlekuk sehingga tampak bercabang dan oleh karena itu disebut bifida. Lingua dapat dijulurkan keluar dengan cepat yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan mangsanya ke dalam mulut.
Menurut Susanto (1994:188) menyatakan bahwa Saluran reproduksi betina pada katak, tiap oviduk merupakan suatu saluran sederhana berkelompok yang menjulur dari bagian anterior rongga tubuh ke kloaka. Oviduk mempunyai sel kelenjar yang mensekresi lapisan jeli di sekitar telur, dan bagian bawah melebar untuk penampungan telur sementara, tetapi selain itu oviduk tidak mengalami spesifikasi. Karena katak kawin di dalam air, maka fertilisasi terjadi di luar. Induk katak betina yang bunting namun tidak mendapatkan pejantan yang bersedia mengawininya biasanya akan menyerap kembali telurnya
Menurut Istiningdyah (2010) menyatakan bahwa  Sistem respirasi terdiri dari paru-paru, laring, glottis. Pertukaran gasnya terdapat di kulit dan paru-paru. Pembuluh darah adalah tempat masuknya oksigen dan keluarnya karbondioksida Mekanisme pernapasan meliputi dua fase,yaitu inspirasi atau menghisap udara ke dalam pulmo dan ekspirasi atau mengeluarkan udara dari pulmo,keduanya dilaksanakan dalam keadaan mulut tertutup. Pernapasan melalui kulit pada katak dapat berlangsung baik di darat maupun di air. Pada stadium larva pernapasan berlangsung melalui insang yang terbentuk dari perluasan epithelium pharynx.
Menurut yatim (1990:86) menyatakan bahwa Masa berkembang biak katak jantan dapat dikenali melalui extrimitas posterior, yaitu pada medio ventral jari pertama terdapat penebalan kulit dengan hyperpigmentasi. Penebalan berguna untuk memegang hewan betina pada waktu meletakkan telur-telurnya dalam fertilisasi.





BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Alat dan bahan
Alat :
  Pinset
  Pisau
  Gunting
  Lup
  Papan parafin
  Jarum
  Lap
Bahan:
«  Katak sawah (Rana cancrivora)
«  Vaselin

B.     Cara kerja
1.      Studi tentang betuk luar tubuh Rana cancrivora
·         Mengamati secara seksama preparat tertunjuk. Menggambar bentuk luar tubuh preparat, sehingga menjadi jelas informasi mengenai bentuk tubuh, pembagian wilayah tubuh dan alat-alt tubuh bagian luar.
·         Member keterangan lengkap bagian-bagian dari:
Ø  Caput: rima oris, fovea nasalis, organo visus, membrane tymphani, dsb
Ø  Truncus:dorsum, ventrum/abdomen, lateral, muara cloaca/anus, extrimitas anterior, extrimitasposterior.
·      Melengkapi pengamatan inspection terhadap masing-masing bagian organ secara detil : bagian-bagian mata, telinga, hidung, kulit dll.
2.      Studi tentang topografi alat-alat visceral Rana cancrivora (sectio)
·         Mematikan dahulu preparat dengan uap chloroform/eter sebgai pembius.
·         Mencuci katak yang sudah mati, dengan air yang mengalir.
·         Melakukan pembedahan diatas papan bedak/ bak parafin. Melakukan pengguntingan yang dimulai pada kulit perut antara kedua lipat paha menyusur garis tengah badan kea rah depan sampai dengan dadanya. Selanjutnya menggunting system muscularnya dengan arah yang sama.
·      Mengamati situs viscerum (alat dalam) Rana cancrivora: menetukan jenis kelaminnya, selanjutnya menggambar dan member keterangan secara lengkap istilah latin diikuti istilah Indonesia-nya. Untuk organ yang tertutup organ lain, menggambarnya dengan garis putus-putus:
Ø  Caput (daerah cavum oris): dentes maxillaries, nares posterior, palatum, pharynx, os vomer (dengan dentes), ostium tubae auditivae, rima glotidis, lubang ke saccus vocalis (hanya pada katak jantan).
Ø  Truncus: cor, hepar ventriculus, intestinum, cloaca, pancreas, lien, ovarium, oviduct, uterus, atau  testes, vasa efferentia, vesica seminalis, mesonephros, ductus mesonephridicus (ureter), vesica urinaria, pulmo, vesica felea. Mengamati masing-masing organ secara detail.




BAB IV
HASIL PENGAMATAN

A.    Gambar hasil pengamatan
  1. Inspectio
  2. Sectio
  3. System pencernaan
  4. System respirasi
  5. Saccus atau rongga dan sekat
  6. Urogenital jantan
  7. Urogenital betina


B.     Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa pada Inspectio katak (Rana cancrivora), terdiri dari kepala (Caput), lubang hidung (Nares eksternal), mata (Cavum oris), telinga (Membran tympani), Ekstremitas anterior: lengan atas (antebrakchium), lengan bawah (brakchium), jari (Digiti), punggung (Dorsum), Perut (Abdomen), sedangkan Ekstremitas posterior : paha (Femur), betis (Crus), kaki (Pes) dan selaput antar jari (Membran).
Kepala dan tubuhnya bersatu, tidak mempunyai leher dan juga tidak mempunyai ekor. Katak tidak mempunyai ekor, karena menghalang-halangi gerak meloncat. Anggota gerak depan lebih pendek dan kecil dibandingkan yang belakang. Jari-jarinya hanya ada empat buah. Jari-jari anggota belakang ada lima buah. Anggota gerak bagian belakang ini jauh lebih besar dan panjang. Otot pahanya besar dan kuat untuk meloncat. Untuk memudahkan berenang, di antara jari-jari kaki belakang terdapat selaput renang.
kulit katak banyak mengandung kapiler-kapiler darah dari cabang-cabang kutanea magna dari arteri kutanea. Dengan demikian, kulit katak memegang bagian penting dalam pernapasan.
Katak bernapas dengan bebagai cara. Misalnya dengan kulit tipis dan lembab juga dengan selaput mulutnya, sehingga katak sering tampak memompa udara ke mulut, dengan menggerakkan rahang bawah. Cara lain dengan paru-paru. Paru-parunya mirip suatu percabangan usus belaka. Bentuknya panjang, tipis, dan meruncing ke ujung. Karena dari lubang hidung ada saluran yang langsung ke rongga mulut, maka katak sawah (Rana cancrivora) tidak mempunyai farink, tetapi langsung ke laring.
Sistem otot rangka pada katak disebut sistem muskuluskeletal. Sistem tersebut terbagi menjadi:
  1. Otot-otot pada bagian kepala, terdiri dari:
a.       Muscullus submaxillaris dan muscullus submandibularis, serabut-serabutnya mengarah transversal.
b.      Muscullus subhyoideus, bentuk seperti pita, transversal posterior dari muscullus submandibularis.
  1. Otot-otot pectoral terdiri dari :
a.       Muscullus deltoideus,terdiri dari :
·         Muscullus pars episternalis,yaitu otot dengan ujung yang menyampit, menempel pada episentrum di bawah muscullus subhyoideus.
·         Muscullus pars scapularis, ujungnya menempel pada scapula (tulang bahu).
b.      Muscullus pectoralis,terdiri dari :
·         Muscullus pars epicoracoidea,ujung menempel pada sternum dan menutupi muscullus coracoradialis.
·         Muscullus pars sternalis,ujung pada sternum terdapat posterior dan muscullus pars epicoracoidea.
·         Muscullus pars abdominalis,ujumg yang menempel pada dinding lateral dan muscullus rectus abdominis san ujumgnya menempel pada lengan atas.
·         Muscullus coracoradialis, ujumg pada coracoid. Letaknya sebelah dorso-anterior pars epicoracoidea dan dorso-posterior dari pars episternalis.
  1. Otot-otot daerah abdomen, terdiri dari :
a.       Muscullus rectus abdominis, terdapat medio ventral tubuh, di tengahnya terdapat tendo atau urat berwarna putih yang disebut linea alba. Otot ini bersegmentasi karena adanya inscriptio tendinae yang berjumlah empat pasang.
b.      Muscullus obliqus externus, serabut-serabut ototnya tersusun miring lateral dan ujungnya menempel pada muscullus rectus abdominis.si bawahnya terdapat muscullus obliqus internus di mana arah daripada serabut-serabut ototnya berlawanan dari arah muscullus di atasnya.
  1. Otot-otot pada extrimitas posterior
a.       Bagian femur dibangun oleh otot yang letaknya lateral ke medial,berturut-turut :
·         Muscullus trisep femoris, otot besar letak paling lateral.
·         Muscullus sartorius, otot pipih yang letaknya sebelah medial dari muscullus femoris.
·         Muscullus adductor magnus, medial dari muscullus sartorius,dari luar tampak seperti kerucut.
·         Muscullus gracillis mayor,otot-otot agak besar pada femur bagian medial.
·         Muscullus gracillis minor,bentuk pita tipis.
b.      Bagian crus, trdiri dari :
·         Muscullus gastronimeus,besar bagian atasnya dilanjutkan nengan tendo achilism
·         Muscullus tibialis anticus longus,otot-otot terdepan pada kaki bawah ujungnya melekat pada femur bagian distal dengan perantaraan suatu tendo yang panjang.
·         Muscullus tibialis posticus, terletak antara muscullus gastronimeus dan muscullus tibialis anticus longus, ujumgnya melekat sepanjang tibiofibulla.

Pada pengamatan sistem pencernaan diperoleh hasil bahwa sistem pencernaan katak hijau (Rana cancrivora) terdiri dari mulut, kerongkongan (Esofagus), lambung (Ventriculus), usus halus (Intestinum tenue) yang juga terdiri dari tiga saluran yaitu usus dua belas jari (Duodenum), usus kosong (Jejunum) dan penyerapan (Ileum).  Kemudian dilanjutkan pada usus besar (Intestinum crasum) atau yang biasa di sebut Colon dan terakhir bermuara di kloaka.
Saluran pencernaan pada katak hijau (Rana cancrivora) dimulai dari rongga mulut, dan pelepasan terakhir di kloaka.  Setelah makanan masuk melalui mulut yang terdapat gigi pada rahang atas langit-langit yang berbentuk kerucut, dan lidah yang bercabang dua dimana fungsinya sebagai alat penangkap mangsa, lalu dengan bantuan gigi dan kelenjar air ludah kemudian makanan masuk ke kerongkongan (Esofagus) yang merupakan saluran pendek yang dilalui makanan untuk menuju ke lambung (Ventriculus), dimana lambung (Ventriculus) tersebut hanya berupa kantung yang tergantung dan dapat menjadi besar apabila terisi makanan.  Setelah itu, sari-sari makanan yang telah halus diserap oleh dinding usus halus (Intestinum tenue) yang banyak mengandung pembuluh kapiler darah.  Sedangkan usus ini berakhir di kloaka yang berfungsi sebagai alat ekskresi, tetapi sebelum dikeluarkan melalui kloaka, kotoran sisa makanan ditampung di dalam rektum.
Pada pengamatan sistem reproduksi katak hijau (Rana cancrivora) jantan memiliki sepasang testis yang berfungsi menghasilkan sperma. Sperma yang dihasilkan oleh testis dikeluarkan melalui saluran sperma dan bersama urine keluar melalui kloaka.  Kloaka merupakan suatu muara dari tiga saluran yaitu pencernaan, saluran kelamin (Reproduksi), dan pengeluaran (Ekskresi).
Katak hijau (Rana cancrivora) jantan memiliki sistem reproduksi sebagai berikut: badan lemak, testis, vas aferen, uterus, kantong sperma, kantong kemih, ginjal, dan kloaka. Sedangkan sistem reproduksi pada katak hijau (Rana cancrivora) betina yaitu berupa sel telur, ovarium, uterus, ureter, ginjal, oviduk, kantong kemih dan kloaka.  Ovarium pada katak betina berfungsi menghasilkan sel telur (Ovum), sel telur tersebut dikeluarkan menuju oviduk dan selanjutnya keluar melalui kloaka.
Sistem reproduksi katak hijau (Rana cancrivora) betina berupa: sel telur, ovarium, ginjal, uterus, ureter, kantong kemih, oviduk, dan kloaka.  Ketika melakukan reproduksi di dalam air, katak betina yang memiliki ukuran lebih besar dirangkul oleh pejantan.
Selain itu diketahui bahwa katak betina memiliki sepasang ovarium yang mengeluarkan telur. Apabila telur sudah masak, katak betina menuju ke air kemudian katak jantan datang dan menaiki punggung katak betina.  Selanjutnya katak betina mengeluarkan telur ke dalam air dan bersamaan dengan itu katak jantan mengeluarkan spermanya.
Telur yang sudah dibuahi menyerap air sehingga membesar kemudian berkembang menjadi embrio.  Embrio mendapat makanan dari kuning telur, kurang lebih seminggu setelah pembuahan embrio berkembang menjadi berudu. Selanjutnya katak berkembang terus megalami perubahan yang disebut dengan metamorphosis.


Kedudukan katak sawah dalam susunan sistematikanya:
Phylum: Chordata
Subphylum: vertebrata
Class: Amphibia
Ordo: Anura
Subordo: Phanerogolossa
Family: Ranidae
Genus: Rana
Spesies: Rana cacrivora
Rana cancrivora berada dalam sistematika phylum chordata karena sudah memiliki notochord atau chorda dorsalis. Dan phylum vertebrata karena memilki ruas-ruas tulang belakang atau vertebrate, yang mengalami penulangan dan segmentasi serta tak ada kelenjar susu, tak bersisik, bertelur dan tak ada bulu. Katak sawah (Rana cancrivora) termasuk ordo Anura. Dalam ordo ini, amphibi pandai melompat. Kepala dan tubuhnya bersatu, tidak mempunyai leher dan juga tidak mempunyai ekor. Katak tidak mempunyai ekor, karena menghalang-halangi gerak meloncat.
Klarifikasi sistem-sistem organ Rana cancrivora antara lain: inspectio, sectio, dan topografi. Inspectio berupa organ-organ luar . Sectio berupa organ dalam seperti system pencernaan, system respirasi, system sirkulasi, system reproduksi, system skeleti, system nervosum. Dan topografi menyatakan letak alat tubuh satu dengan alat tubuh lainnya

Perbedaannya katak sawah/kodok (Rana cancrivora) dengan katak lain Kodok bertubuh pendek, gempal atau kurus, berpunggung agak bungkuk, berkaki empat dan tak berekor (anura: a tidak, ura ekor). Kodok umumnya berkulit halus, lembab, dengan kaki belakang yang panjang. Sebaliknya katak atau bangkong (Bufo melanostictus) berkulit kasar berbintil-bintil sampai berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya sering pendek saja, sehingga kebanyakan kurang pandai melompat jauh.
Persamaannya dengan katak lain: perkembangan hidupnya mengalami dua alam (di air dan di darat), daur hidupnya mengalami metamorphosis sempurna, mengalami masa larva yang berbeda dengan dewasa, ekornya mengalami rudimenter sehingga seolah-olah tidak berekor, kaki tumbuh dengan baik, kaki belakang lebih panjang dan ada selaput renang berguna untuk melompat.




BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa Tubuh Rana cancrivora dapat dibedakan antara bagian caput, dan truncus. Pada bagian caput terdiri dari rima oris, organon visus, membrane tymphani dll. Pada bagian truncus terdapat dorsum, ventrum/abdomen, lateral, muara cloaca/anus, extrimitas anterior, dan extrimitasposterior.
Pada bagian alat-alt visceral (sectio) Rana cancrivora terdiri dari kerongkongan, pharynx, esophagus, median sub-rostral fossa, lateral sub-rostal fossa, nares posterior, Os, vomer, ostium tubae, lambung (intestinum), usus 12 jari, usus kosong usus besar, usus halus, anus,  hati (hepar), jantung (cor), paru-paru (pulmo), kantung suara (saccus vocalis), kantong empedu (vesica fellea), pylorus, sacrum, rectum, ureter, urgenital jantan dan betina.




DAFTAR PUSTAKA

Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata I. Bandung: Amico
Istiningdyah. 2010. Pengamatan hewan. (online).
     4 November 2011 pukul 21.11 WIB
Radiopoetro. 1977. Zoologi. Jakarta: Erlangga
Susanto, Heru. 1994. Budidaya Kodok Unggul. Jakarta: Penebar swadaya
Yatim, W. 1990. Biologi Modern: Histologi. Bandung: Tarsito

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar